Selasa, 23-02-2010
Rencana Hengkang AirAsia dari Makassar
Wagub Optimis Tetap Bertahan
MAKASSAR, UPEKS--Kendati AirAsia sudah hengkang dari Manado dan Palembang, namun Wakil Gubernur, H Agus Arifin Nu'mang, tetap optimis jika maskapai penerbangan internasional itu, tetap beroperasi di Makassar. Kendati ada sinyal AirAsia bakal menutup layanannya, namun itu belum keputusan akhir.
"Saya akan minta Dinas Perhubungan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bisa melihat permasalahannya. Kita berharap AirAsia tetap eksis. Kita lihatlah persoalannya. Kita berharap Sulsel tidaklah ditinggalkan," jelas Agus, usai membuka Rapat Koordinasi dengan Kepala Dinas Lingkup Bina Marga se-Sulsel di Clarion Hotel & Convention Makassar, Senin (22/2).
Mantan Ketua DPRD Sulsel itu, menyatakan, jika hanya masalah load factor yang menjadi alasan AirAsia pesawat terbang akan hengkang, kurang tepat. Karena pada waktu-waktu tertentu, load factor penumpang itu cukup padat.
"Kemarin, waktu mau tahun baru juga penuh. Kalau pada waktu-waktu tertentu terjadi low season, jangankan Sulsel, nasional juga demikian. Memang di penerbangan ada turun dan naik," jelasnya.
Salah satu faktor yang merangsang ramainya penerbangan adalah adanya wisatawan yang masuk ke daerah ini. Jika itu bisa digenjot, otomatis orang-orang yang ingin berwisata di Sulsel besar. Itu merangsang kenaikan penerbangan di Sulsel. Namun permasalahannya sekarang adalah, pariwisata Sulsel yang cukup beragam dan kaya belum diimbangi dengan infrastruktur yang memadai.
"Jika infrastruktur daerah ini sudah baik, pasti pariwisata akan terdongkrak. Kendalanya sekarang kan, banyak yang mengeluhkan infrastruktur misalnya jalan yang tidak mulus untuk ke daerah pariwisata. Namun infrastruktur tidak bisa sim salabim langsung jadi. Akan kita benahilah secara bertahap," katanya.
Sementara itu, Divisi Penerbangan DPD Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sulsel, H Bambang Haryanto, menjelaskan, dalam membahas masalah transportasi khususnya transportasi udara perlu dipahami terdahulu aspek, diantaranya keperluan melakukan sebuah perjalanan (Purpose of Travel) dan segmentasi penumpang. Selain itu perlu melihat sejauh mana pengaruh lingkungan terhadap bisnis jasa transprotasi udara (Business Environment)
"Ada beberapa keperluan melakukan perjalanan seseorang atau kelompok dalam melakukan sebuah perjalanan tentu memiliki tujuan dan kepentingan tertentu yaitu, bisnis (Business Traveller), wisata (Leisure Traveller), Visit Relation Family (VFR = kunjungan pribadi contohnya mudik, menjenguk orang sakit, hajatan dan lainnya), pelajar (Student Traveller) dan tenaga kerja (Worker/Labour/Seamen)," ungkapnya.
Selain itu, bagi AirAsia mungkin saja sulit untuk bisa mencapai Load Factor (tingkat isian pesawat baik penumpang maupun barang/cargo) yang ideal yaitu 70% ke atas untuk bisa break event, karena memilik net work penerbangan dari dan ke Manado tidak banyak penerbangan yang masuk dari Kawasan Timur Indonesia (KTI).
"Jadi dalam hal ini hampir tidak ada feeder flight yang bisa memberikan kontribusi berupa tambahan penumpang tujuan Malaysia, sehingga AirAsia hanya berharap penumpang dari wilayah Sulut saja," jelasnya.
Pertanyaannya adalah seberapa besar traffic atau arus penumpang dari Manado ke Malaysia? Apakah Malaysia memenuhi syarat sebagai tujuan bisnis dan wisata bagi masyarakat Sulut?
Justru AirAsia yang beroperasi dari Makassar ke KL pp 4 x seminggu menunjukkan performance yang menggembirakan, tercatat Seat Load Factor rata-rata per flight bisa mencapai 70-80%. Kondisi ini akan terus meningkat karena Makassar (Sulselbar) memiliki keunggulan dan daya tarik bagi pebisnis dan wisatawan maupun kunjungan pribadi.
"Maka kami optimis bahwa arus penumpang domestik dan international akan semakin meningkat secara signifikan serta maskapai asing yang masuk akan bertambah dipicu oleh faktor-faktor pendukung," jelasnya.
Secara rinci, faktor-faktor itu meliputi Makassar merupakan Hubungan Station, transit point bagi penerbangan, penumpang, barang kiriman/cargo. Kedua Runway baru dan fasilitas bandara sudah memungkinkan berbagai jenis tipe pesawat, narrow, widebody bahkan jumbo.
Ketiga Jalur dan frekwensi penerbangan dari berbagai kota di Kawasan Timur Indonesia memberikan kontribusi cukup besar bagi maskapai, yaitu pebisnis maupun wisatawan yang akan melanjutkan perjalanan melalui station Sultan Hasanuddin.
Keempat masyarakat Bugis memiliki ikatan emosional dengan Malaysia. Kelima Pembangunan Mal, Perumahan, kawasan water front Losari, Trans Studio, Pady Golf, Sekolah Unggulan bertaraf international, revitalisasi Fort Rotterdam dan lain-lain.
Keenam Kekayaan Seni Budaya, Kuliner, kerajinan tangan, sumber daya alam. Ketujuh jumlah jemaah Umrah dan Haji Khusus meingkat setiap tahun, tidak menutup kemungkinan kedepan akan ada maskapai yang terbang dari Makassar langsung ke Jeddah (saat ini baru penerbangan haji), misal Garuda Indonesia Lion Air yang telah terbang ke Jeddah, bahkan maskapai asing yang tertarik dengan pasar umrah tersebut. maupun
Selanjutnya yang kedelapan Badan Pariwisata international memprediksi sekitar 20% wisatawan dunia akan membanjiri kawasan Asia termasuk Indonesia. Apakah Indonesia mampu dan siap berkompetisi?.
"Tinggal bagaimana para stake holder cekatan mengolah dan memanfaatkan keunggulan Sulsel, ,jeli menangkap setiap peluang, menyiapkan sarana dan prasarana serta tentu saja sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan," urainya.
Sementara pengaruh lingkungan (Business Environment), dimana bisnis jasa transportasi udara sangat rentan terhadap lingkungan atau akan mudah terkena imbas oleh faktor-faktor terhadap politik (Otoda, Pilkada), keamanan (kerusuhan, teror, demo dan lain-lain), teknologi (kemajuan IT, teknologi pesawat), ekonomi (daya beli masyarakat, industri setempat), keuangan (kurs valuta asing), budaya (mudik).
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com
Rencana Hengkang AirAsia dari Makassar
Wagub Optimis Tetap Bertahan
MAKASSAR, UPEKS--Kendati AirAsia sudah hengkang dari Manado dan Palembang, namun Wakil Gubernur, H Agus Arifin Nu'mang, tetap optimis jika maskapai penerbangan internasional itu, tetap beroperasi di Makassar. Kendati ada sinyal AirAsia bakal menutup layanannya, namun itu belum keputusan akhir.
"Saya akan minta Dinas Perhubungan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bisa melihat permasalahannya. Kita berharap AirAsia tetap eksis. Kita lihatlah persoalannya. Kita berharap Sulsel tidaklah ditinggalkan," jelas Agus, usai membuka Rapat Koordinasi dengan Kepala Dinas Lingkup Bina Marga se-Sulsel di Clarion Hotel & Convention Makassar, Senin (22/2).
Mantan Ketua DPRD Sulsel itu, menyatakan, jika hanya masalah load factor yang menjadi alasan AirAsia pesawat terbang akan hengkang, kurang tepat. Karena pada waktu-waktu tertentu, load factor penumpang itu cukup padat.
"Kemarin, waktu mau tahun baru juga penuh. Kalau pada waktu-waktu tertentu terjadi low season, jangankan Sulsel, nasional juga demikian. Memang di penerbangan ada turun dan naik," jelasnya.
Salah satu faktor yang merangsang ramainya penerbangan adalah adanya wisatawan yang masuk ke daerah ini. Jika itu bisa digenjot, otomatis orang-orang yang ingin berwisata di Sulsel besar. Itu merangsang kenaikan penerbangan di Sulsel. Namun permasalahannya sekarang adalah, pariwisata Sulsel yang cukup beragam dan kaya belum diimbangi dengan infrastruktur yang memadai.
"Jika infrastruktur daerah ini sudah baik, pasti pariwisata akan terdongkrak. Kendalanya sekarang kan, banyak yang mengeluhkan infrastruktur misalnya jalan yang tidak mulus untuk ke daerah pariwisata. Namun infrastruktur tidak bisa sim salabim langsung jadi. Akan kita benahilah secara bertahap," katanya.
Sementara itu, Divisi Penerbangan DPD Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sulsel, H Bambang Haryanto, menjelaskan, dalam membahas masalah transportasi khususnya transportasi udara perlu dipahami terdahulu aspek, diantaranya keperluan melakukan sebuah perjalanan (Purpose of Travel) dan segmentasi penumpang. Selain itu perlu melihat sejauh mana pengaruh lingkungan terhadap bisnis jasa transprotasi udara (Business Environment)
"Ada beberapa keperluan melakukan perjalanan seseorang atau kelompok dalam melakukan sebuah perjalanan tentu memiliki tujuan dan kepentingan tertentu yaitu, bisnis (Business Traveller), wisata (Leisure Traveller), Visit Relation Family (VFR = kunjungan pribadi contohnya mudik, menjenguk orang sakit, hajatan dan lainnya), pelajar (Student Traveller) dan tenaga kerja (Worker/Labour/Seamen)," ungkapnya.
Selain itu, bagi AirAsia mungkin saja sulit untuk bisa mencapai Load Factor (tingkat isian pesawat baik penumpang maupun barang/cargo) yang ideal yaitu 70% ke atas untuk bisa break event, karena memilik net work penerbangan dari dan ke Manado tidak banyak penerbangan yang masuk dari Kawasan Timur Indonesia (KTI).
"Jadi dalam hal ini hampir tidak ada feeder flight yang bisa memberikan kontribusi berupa tambahan penumpang tujuan Malaysia, sehingga AirAsia hanya berharap penumpang dari wilayah Sulut saja," jelasnya.
Pertanyaannya adalah seberapa besar traffic atau arus penumpang dari Manado ke Malaysia? Apakah Malaysia memenuhi syarat sebagai tujuan bisnis dan wisata bagi masyarakat Sulut?
Justru AirAsia yang beroperasi dari Makassar ke KL pp 4 x seminggu menunjukkan performance yang menggembirakan, tercatat Seat Load Factor rata-rata per flight bisa mencapai 70-80%. Kondisi ini akan terus meningkat karena Makassar (Sulselbar) memiliki keunggulan dan daya tarik bagi pebisnis dan wisatawan maupun kunjungan pribadi.
"Maka kami optimis bahwa arus penumpang domestik dan international akan semakin meningkat secara signifikan serta maskapai asing yang masuk akan bertambah dipicu oleh faktor-faktor pendukung," jelasnya.
Secara rinci, faktor-faktor itu meliputi Makassar merupakan Hubungan Station, transit point bagi penerbangan, penumpang, barang kiriman/cargo. Kedua Runway baru dan fasilitas bandara sudah memungkinkan berbagai jenis tipe pesawat, narrow, widebody bahkan jumbo.
Ketiga Jalur dan frekwensi penerbangan dari berbagai kota di Kawasan Timur Indonesia memberikan kontribusi cukup besar bagi maskapai, yaitu pebisnis maupun wisatawan yang akan melanjutkan perjalanan melalui station Sultan Hasanuddin.
Keempat masyarakat Bugis memiliki ikatan emosional dengan Malaysia. Kelima Pembangunan Mal, Perumahan, kawasan water front Losari, Trans Studio, Pady Golf, Sekolah Unggulan bertaraf international, revitalisasi Fort Rotterdam dan lain-lain.
Keenam Kekayaan Seni Budaya, Kuliner, kerajinan tangan, sumber daya alam. Ketujuh jumlah jemaah Umrah dan Haji Khusus meingkat setiap tahun, tidak menutup kemungkinan kedepan akan ada maskapai yang terbang dari Makassar langsung ke Jeddah (saat ini baru penerbangan haji), misal Garuda Indonesia Lion Air yang telah terbang ke Jeddah, bahkan maskapai asing yang tertarik dengan pasar umrah tersebut. maupun
Selanjutnya yang kedelapan Badan Pariwisata international memprediksi sekitar 20% wisatawan dunia akan membanjiri kawasan Asia termasuk Indonesia. Apakah Indonesia mampu dan siap berkompetisi?.
"Tinggal bagaimana para stake holder cekatan mengolah dan memanfaatkan keunggulan Sulsel, ,jeli menangkap setiap peluang, menyiapkan sarana dan prasarana serta tentu saja sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan," urainya.
Sementara pengaruh lingkungan (Business Environment), dimana bisnis jasa transportasi udara sangat rentan terhadap lingkungan atau akan mudah terkena imbas oleh faktor-faktor terhadap politik (Otoda, Pilkada), keamanan (kerusuhan, teror, demo dan lain-lain), teknologi (kemajuan IT, teknologi pesawat), ekonomi (daya beli masyarakat, industri setempat), keuangan (kurs valuta asing), budaya (mudik).
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.com


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !